<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d28922767\x26blogName\x3dOrang+Indonesia\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLACK\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://yamadhipati.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://yamadhipati.blogspot.com/\x26vt\x3d6831795234875758538', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Tuesday, November 28, 2006

DEJA VU

Teringat akan sesuatu yang tak pernah dialami sama anehnya dengan merasa kepanasan di dalam air es. "Tasybih" tersebut memang kurang pas namun keduanya menunjukkan keganjilan dan "ketidak-mungkinan". Jika seseorang masuk kedalam air es, menurut logika dia harus kedinginan. Tidak boleh kepanasan. Sesuatu yang tidak pernah terjadi dan dialami tidak "sah" untuk diingat. Tapi, bagaimana kita bisa menentukan bahwa suatu kejadian belum pernah kita alami? Apakah pengalaman itu terbatas pada kejadian yang kita alami di dunia nyata? Apa yang disebut dengan nyata? What is real?

Dulu saya sering tiba-tiba merasa bahwa saya sudah pernah mengalami kejadian saat itu. Ketiga kalinya, bukan kedua kalinya. Kenapa merasa yang ketiga kalinya juga saya tidak tahu. Tak jarang ingatan itu berupa memori yang panjang sampai kejadian yang akan datang beberapa jam kemudianpun teringat. Dulu waktu SMP, pernah beberapa kali saya keluar kelas dan pulang ke asrama pada jam terakhir. Karena saya sudah "mengalamai hari itu". Dan saya tahu, kalau jam terakhir bakal kosong. Saya juga ingat bahwa nanti di perempatan akan ketemu seseorang. Persis. Sungguh seperti mengulangi hari. Mungkin itu yang disebut orang sebagai deja vu? Devine Inspiration? Yang jelas, "pengulangan kejadian" tersebut membuat saya percaya bahwa Tuhan itu ada. Tadinya, sungguh,,, meskipun dari kecil "dipaksa" belajar mengaji dan sholat, otak saya tidak bisa menerima adanya Tuhan yang "tak terbayangkan" itu.

Saat itu otak kecil saya - waktu itu sekitar kelas 4 SD, saya tidak ingat pasti, pertama kali mengalami itu - tidak bisa menerima bahwa ada suatu dzat yang mauwjuud tanpa ada sesuatu yang mendahuluinya untuk membuatnya terwujud. Bagaimana sesuatu bisa ada tanpa ada bahan untuk membuatnya ada. Mana mungkin bisa ada "sesuatu" yang tiba-tiba muncul di saat segala sesuatu, bahkan "awang-awang" belum ada. Persepsi tentang Tuhan sungguh sesuatu yang absurd bagi saya waktu itu. Di usia saya yang masih dini, saya belum mendengar tentang "istihaalat al tasalsul". Bahwa seandainya Tuhan itu ada yang menciptakan, maka si pencitpanya Tuhan itu juga harus ada yang menciptakan. Demikian seterusnya dan membuatnya semakin tidak masuk akal. Tapi saat itu saya tidak sampai berfikir kesitu. yang saya fikirkan adalah, mana mungkin ada "sesuatu" tiba-tiba meng-ada.

Hubungan pengalaman ini dengan kepercayaan adanya Tuhan adalah "perenungan" saya ketika mengalami hal itu. Kalau Tuhan itu tidak ada,, lalu apa yang saya alami itu? Siapa yang memasukkan memori di kepala saya tentang hari yang saya "ulangi" itu? Saya sungguh tidak bermimpi. Berarti memang ada "sesuatu" yang berada di luar jangkauan indera kita. Sesuatu yang Ghaib.

Emile Boirac (1851-1917) yang pertama kali menggunakan istilah deja vu untuk pengalaman seperti ini menyebutnya sebagai perasaan ganjil. Deja vu, menurutnya bukanlah sesuatu yang datang dari masa lalu. Tapi dari masa kini (present). Para ilmuwan umumnya menghindari penjelasan yang tidak ilmiah (ghaib) mengenai deja vu. Teori yang jamak diyakini (berusaha diyakini dan dibenarkan?) hingga kini adalah bahwa deja vu merupakan sebuah ilusi. Bayangan tak nyata bahwa kita pernah mengalami keadaan tertentu sebelumnya. Jika "hayalan" yang dirasakan oleh seseorang yang mengalami deja vu tersebut membuatnya sangat yakin bahwa dia telah mengalaminya di masa lalu, itu dikarenakan kejadian yang dirasakannya saat ini memilki kemiripan dengan keadaan masa lalu yang sebenarnya memang "pernah dialami". Hanya saja saat itu otaknya tidak mampu mengumpulkan memori akan hal itu secara sempurna. Atau kejadian yang dialami sekarang ini mirip dengan fragmen memori masa lalu yang tidak teratur.

Ada juga yang mencoba menjelaskan fenomena ini dengan penjelasan ilmiah lain; seseorang mengalami deja vu karena sebelumnya mendengar cerita atau melihat gambar yang keadaanya mirip dengan yang dialaminya. Teori lain berusaha menjelaskan bahwa deja vu dipicu oleh neurochemical action di dalam otak yang sebenarya sama sekali tidak terkait dengan memori akan masa lalu. Pada saat demikian, seseorang merasa sedang aneh fikirannya, kemudian menghubungkan keanehan fikiran tersebut dengan masa lalu yang sebenarnya tidak ada.

Tak ada satupun dari penjelasan "ilmiah" di atas yang memuaskan saya. Yang saya alami bukan ilusi. Bukan mimpi. Meskipun tidak menutup kemungkinan berhubungan dengan fragmen memori masa lalu. Tapi bagaimana menjelaskan kenyataan bahwa ingatan saya ketika mengalami deja vu itu benar-benar terjadi setelah itu. Persis sama dengan yang saya ingat tentang masa lalu itu.

Teori ilmiah gagal menjelaskan fenomena deja vu secara memuaskan dan meyakinkan. Para ilmuwan sudah memberi batas sebelum memberikan penjelasan. Mereka memasang rambu-rambu yang tidak boleh dilewati ketika berusaha menemukan jawaban atas fenomena ini; ilmuwan tidak boleh keluar dari rasionalitas. Hanya materi yang memiliki eksistensi. Hal-hal diluar materi dianggap sebagai mitos.


To be Continued,,,

13 Comments:

Blogger tyka82 said...

kalo di Surabaya, Nyata itu nama tabloid gosip paling yahudd...

hehehe :D

1:41 PM  
Blogger pangapora said...

Mbah.... Dan es itu, akan terasa dingin kalau kita sentuh sebentar. Coba dekap lebih lama. Apa rasanya? Perih -bahkan ajaib- seperti panas membakar! (Sebagaimana pengakuan napi-napi negeri kita yang di plonco di tahanan). Kwekwekwek....

6:58 AM  
Blogger Alex Ramses said...

Nah itu dia,, seolah2 hal2 teresbut "tidak mungkin", abraham dibakar tapi merasa kedinginan juga menurut logika "tidak mungkin". Referensinya mau dikirim lewat pdf apa word sayang?
ada adnan oktar tentang the secret beyod matter, dan what is real itu, banyak dibahas dalam the philosophy of matrix. terus ada buku beli marin; al maddiyah fi al fikri al falsafiy, beli di maktabah azhar hihihi,,, tapi lagi mau belajar sekarang, ujian inshallah, lom sempat nerusin tulisannya.

di http://science.howstuffworks.com juga banyak
tentang deja vu,, mo sholat jum'at dulu,,,

11:51 AM  
Blogger Mochtar Han said...

coz i know u'r musician,
so i know deja vu is one of dream theater songs, n u'r inspirated !

right ? peace !
huehue :)

9:45 PM  
Blogger Twelve Red Monkeys said...

Ada ketidakseimbangan kimiawi dalam otak saya yang terpicu oleh stress.

Pada usia sebelas saya kadang hilang kesadaran akibat deja vu. Pernah satu kali saat sedang di kelas saya merasa deja vu, pernah mengalami kejadian itu dalam mimpi. Keringat dingin mulai mengalir, sekeliling saya jadi terang lalu putih lalu pudar, suara-suara jadi hening, lalu saat penglihatan dan pendengaran kembali saya sedang duduk memeluk lutut di dekat kamar mandi. Saya kembali ke kelas pias. Kata teman2 saya mendadak bangkit, minta ijin keluar pada guru bahasa daerah.

Setelah lama sekali tidak merasakannya, hal ini terjadi lagi tahun lalu. Begitu terjadi deja vu dan saya mulai berkeringat dingin, saya langsung lari mencari bantuan. Minta dipeluk erat-erat oleh teman agar saya tak kemana-mana.

Lima tahun yang lalu saya tahu bahwa itu kemungkinan hanyalah panic attack biasa.
Tahun lalu saya baru tahu itu bisa jadi sebuah episode serangan epilepsi.


Heheheh...
nggak penting kan?
Begitulah adanya.

8:37 PM  
Blogger The Kannes said...

Wah pengalamannya sukar di percaya logika nih ...aku pernah mengalami kejadian yg ampir sama tapi sayangnya melalui mimpi yg menjadi kenyataan ....

Karena nalar sehatku nggak bisa menjelaskan lebih lanjut ya udah aku hanya bisa menyebuat nama Tuhan aja ...yg Maha hebat ..Dia lah yg bisa menjawabnya .

2:02 PM  
Blogger The Kannes said...

mo ninggalan message di sb susah banget ( kena anti spam ) kalau mo lagu edelweiss ke Http://song2play.com/ banyak versinya innocence-mission .....

Met wiken yah , keep writing

11:27 AM  
Blogger The Kannes said...

kelupaan :ati2 banyak virusnya di situ

11:27 AM  
Blogger Sun Flower Arco said...

terkadang susah mempercayai sisi *irrasionalitas* apalagi dgn kondisi kita yg hidup di luar negeri. Islam mengatur itu semua, kategori mukmin salah satunya percaya kpd yg ghaib. So, deja vu bisa aja terjadi, hanya kita hrs ada penuntut..sehingga tidak jth pada jurang kebatilan.
salam kenal
-vera-

3:45 PM  
Blogger NiLA Obsidian said...

waktu umur saya sekitar 7 th....sy sempat beberapa mengalami deja vu...hanya beberapa detik saya merasa moment itu pernah saya alami....(waktu itu saya ga ngerti...tp keinget sampe skrg)

kemudian hilang...timbul2 lagi setalh dewasa..kadang sering kemudian hilang lagi dlm jangka waktu lama.....

ketika kejadiannya stlh dewasa, saya analisa saya sering dejavu kalo saya lg banyak meditasi atau lgi sedih....(kenapa ya? apa itu ada hubungannya?)

2:11 PM  
Blogger Mashuri said...

Dalam ilmu kedokteran deja vu merupakan salah satu manifestasi kompleks dari epilepsi fokal disamping ilusi lain seperti:jamais vu, deja entendu, jamais entendu, deja vecu, dan jamais vecu. Gejala tersebut dikenal sebagai dreamy state.

9:55 AM  
Blogger indra bustami said...

Saya mendapatkan penjelasan ilmiah (paling tidak menurut saya...hehehe) dari salah satu film seri produksi AS di TV swasta lokal.
Film fiksi ilmiah itu menjelaskan bahwa gejala deja vu ini terjadi karena salah satu panca indera (kalo ga salah panca indera yang berpasangan...seperti mata & telinga) kita merespon lebih cepat dari pada yang lainnya sehingga terjadi 2x proses pengiriman pesan tersebut hingga sampai ke otak kita.

3:28 AM  
Blogger icam valeryn said...

OBAT DARAH TINGGI
OBAT KISTA BARTHOLIN
OBAT ASAM URAT
OBAT DIABETES
OBAT KELENJAR GETAH BENING
OBAT PARU PARU BASAH
OBAT HIPERTIROID

4:05 AM  

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home

Site Meter