<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d28922767\x26blogName\x3dOrang+Indonesia\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLACK\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://yamadhipati.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://yamadhipati.blogspot.com/\x26vt\x3d6831795234875758538', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Monday, October 23, 2006

Ignorance

Entah karena usia Islam di negara kita yang masih muda atau memang karena kekerdilan nalar, sehingga banyak sekali hal-hal naif yang dilakukan para pemeluk Islam di tanah air. Perbedaan mazhab yang di negara seperti mesir tidak pernah menjadi persoalan, begitu komplek efek yang ditimbulkannya di Indonesia. Mulai dari qunut, jumlah roka'at tarawih, membaca yasin dan seabrek lagi yang lainnya. "Perseteruan" akibat hal-hal sepele - yang demi Allah - tidak diridhoi tuhan dan rosulnya tersebut justru menjadi hal inti dalam beragama.

Keberadaan ormas Islam semacam NU dan Muhammadiyah - selain ormas-ormas Islam lain - bahkan semakin menambah rumit persoalan. Karena kedua ormas ini membangun identitasnya masing-masing dengan ikhtilaf-ikhtilaf tadi. Kedua ormas ini bahkan seolah-olah telah menjadi "agama" baru. Bukan rahasia jika pada kalangan akar rumput kedua ormas ini, kebenaran ber-Islam detentukan oleh afiliasi seorang muslim terhadap salah satu ormas. Dalam keyakinan hati seorang warga NU di kampung, orang Muhammadiyah itu tidak masuk surga, dan sebaliknya. Yang sangat menyedihkan, kaum intelektual dan pemuka agama dari kedua ormas ini tidak pernah dengan sungguh-sungguh memberikan pemahaman dan pencerahan kepada jama'ahnya dalam hal ini. Entah karena fanatisme yang telah lama dipupuk di dalam hati sehingga tumbuh menjadi berhala dan kebencian terhadap golongan yang lainnya, atau sebenarnya mereka ini tidak sadar.

Fanatisme jahiliyyah semacam ini sangat berpengaruh pada kesatuan dan kekuatan umat. Secara politis, kedua ormas ini tak pernah sepakat. Hal ini tentu saja membuat umat Islam yang mayoritas di Indonesia menjadi lemah. Bahkan terjadi "perang" yang sangat serius antara kedua kelompok ini. Setiap kali salah satu fihak mempunyai kesempatan berkuasa, ia akan berusaha sekuat tenaga untuk menyingkirkan fihak yang lainnya dari pos-pos jabatan untuk kemudian mengisinya dengan teman-teman "seagama". Hal ini jarang sekali dibicarakan secara terbuka meskipun praktiknya telah terjadi sejak lama. Mungkin mereka malu berterus terang akan hal ini.

Jika pola relasi yang tidak sehat semacam ini terus dikembangkan, saya khawatir justru akan mengikis Islam yang ada di hati kita. Bagaimana tidak, jika loyalitas seseorang diberikan kepada ormas, bukan lagi kepada Islam. Jika hal-hal yang mendasari tindakan kita adalah kecintaan kepada ormas, bukan kepada Islam. Kalau kita bersedia jujur, sebenarnya penilaian kita terhadap seorang pemimpin ataupun kebenaran suatu masalah sangat ditentukan oleh fanatisme ini. Bahkan enak atau tidak enaknya makanan juga kadang ditentukan oleh ormas atau partai. Jika anda seorang warga NU yang cinta mati terhadap Gus Dur, diajak oleh kawan anda bertamu ke rumah koleganya. Di rumah kolega kawan anda tersebut anda dusuguhi makanan kesukaan anda, tapi ketika hendak menyuapkan makanan tersebut ke dalam mulut anda, secara tak sengaja mata anda melihat poster Amien Rais di salah satu ruangan rumah tersebut. Makanan yang disuguhkan itu tiba-tiba menjadi tidak enak atau minimal selera makan anda jadi berkurang.

Ta'assub ini telah menjadi penyakit yang sangat kronis dalam kehidupan umat Islam di tanah air. Untuk menyembuhkannnya memerlukan usaha yang sungguh-sungguh dari para pemimpin umat. Namun harapan akan tetap tinggal harapan jika para pemimpin umat tidak mau menyadari hal ini dan "berketetapan hati" untuk melanggengkan kebencian dan permusuhan ini. Padahal para pemimpin umat inilah nanti yang pertama-tama akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat atas perilaku jahiliyah jama'ahnya.

Di ujung penghabisan bulan Ramadan yang lalu untuk kesekian kalinya terjadi "ketegangan" akibat ikhtilaf penentuan satu Syawal. Perbedaan penentuan tanggal satu Syawal di Indonesia bukanlah wujud sebuah rahmat dari ikhtilaf yang cerdas dan masuk akal. Menurut saya ini bukan menggelikan, tapi menyedihkan. Karena keanehan seperti ini tidak terjadi di negara Islam lain. Ada sebuah kelompok di Sumatera yang membuat patokan aneh. Mereka menentukan tanggal satu Syawal itu adalah tiga hari sebelum satu Syawal yang ditetapkan pemerintah. Kesesatan apa lagi ini! Hadis nabi yang memerintahkan kita melihat hilal untuk menentukan jatuhnya satu Ramadhan dan satu Syawal dibuang kemana? Bahkan kedua ormas Islam terbesar di Indonesia seolah-olah selalu sengaja berbeda dalam penentuan satu Syawal ini. Dulu ketika Muhammadiyah dekat dengan pemerintah, mereka selalu mengikuti satu Syawal yang ditetapkan oleh pemerintah. Sekarang ketika NU mengikuti satu Syawal yang ditetapkan oleh pemerintah, Muhammadiyah sebaliknya.

Ini gejala apa kalau bukan menunjukkan ketidak sehataan perilaku beragama umat Islam Indonesia. Kalau setiap kelompok berusaha berbeda hanya demi menegakkan identitas golongan, bagaimana pertanggung jawabannya nanti di hadapan Allah? Ini murni masalah ibadah, bukan politik. Pada zaman sekarang, dimana sains sudah sangat maju, peralatan-peralatan astronomi ciptaan manusia bisa dimanfaatkan untuk membantu kaum muslim melihat hilal dengan lebih tepat dan akurat. Memanfaatkan teknologi juga adalah bentuk sebuah syukur atas anugerah akal yang diberikan oleh Allah. Teknologi sama sekali tidak bertentangan dengan agama. Bahkan agama menganjurkan manusia untuk selalu berkreasi. Indonesia memiliki Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional yang disingkat LAPAN.

Tidak ada satupun ormas Islam di Indonesia yang memiliki peralatan yang melebihi kecanggihan peralatan LAPAN. Lembaga ini juga telah mengumumkan hasil pengamatannya yang lebih akurat dibandingkan dengan semua rukyat yang dilakukan dengan menggunakan mata telanjang. Setelah sesuatu yang sangat jelas dan terang seperti ini, akan mencari kejelasan kemana lagi? Bukankah jelas petunjuk Nabi. Hilal sebagai patokan, bukan lainnya. Patokan lain berupa hisab itu digunakan dengan asumsi bahwa hilal tidak dapat dilihat namun sebenarnya telah naik di ufuk dan tertutup awan. Dengan demikian ditetapkan bahwa satu Syawal telah datang. Tapi dengan peralatan yang canggih, bukankah hilal bisa diamati dengan sangat cermat dan akurat.

Seharusnya para pemimpin ormas Islam lebih mengedepankan persamaan yang didasarkan pada kebanaran dan kejujuran. Bukan justru menyuburkan perbedaan dan kebencian atas nama fanatisme jahiliyah. Perbedaan itu seharusnya ditoleransi bukan dicintai. Karena jika kita mencintai perbedaan, maka yang terjadi adalah "mengusahakan" untuk selalu berbeda demi membangun identitas.

Jika kemudian ormas-ormas Islam lebih rukun dan terbentuk sebuah pola relasi yang lebih sehat, bukan berarti ormas Islam tidak lagi punya garapan. Justru ketika ikhtilaf-ikhtilaf tidak lagi menjadi masalah, ormas Islam bisa lebih fokus pada garapan yang lebih nyata dan bermanfaat. Tugas ormas Islam adalah mendidik, menyadarkan dan memberikan pencerahan kepada umat. Keterpurukan umat dalam bidang ekonomi dan pendidikan saat ini seharusnya menjadi perhatian serius ormas-ormas Islam. Kebutuhan umat yang paling mendesak inilah yang harus menjadi titik perhatian dan garapan ormas Islam. Semoga seiring majunya pendidikan dan ekonomi, umat kita akan lebih dewasa dalam "ber-Islam". Indonesia tidak akan maju jika umat Islam yang merupakan mayoritas penduduk tetap terbelakang. Di sinilah peran ormas Islam menjadi sangat penting.
Wallahu A'lamu!!!
.

2 Comments:

Blogger Inne Hardjanto said...

Tulisannya bagus sekali Mas Alex! memang ya waktu aku kecil juga aku udah denger tuh dua kutub Muhamadiyah-NU, kesannya Islam kok dipisah-pisah begitu. Dan itu betul sekali yang ditulis Mas Alex, pada akar rumput terjadi pertentangan yang sangat meruncing. Yang satu menuding sesat yang lain. Perbedaan Madhab seharusnya menjadi berkah. Bukan malah memperparah kondisi umat Islam Indonesia. Mudah-mudahan akan banyak generasi muda Islam yang berpemikiran lapang dan lurus yang bisa menjembatani gap ini. Salam dari Den Haag !

7:50 PM  
Blogger ima said...

Wow, this is really deep and great writing, indeed!
Mas, nulis di Multiply juga dong, dijamin bakal terjadi diskusi sehat, banyak teman2 yg senang dialog di Multiply :-p

Salam kenal,

Ima van Leeds
www.imazahra.multiply.com

11:43 PM  

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home

Site Meter