<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d28922767\x26blogName\x3dOrang+Indonesia\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLACK\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://yamadhipati.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://yamadhipati.blogspot.com/\x26vt\x3d6831795234875758538', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Saturday, October 21, 2006

Aliran Sesat

Bagaimana seharusnya negara melindungi rakyatnya dari praktik penyesatan dalam beragama? Apakah penyelewengan ajaran demi kepentingan kelompok tertentu serta penipuan atas nama agama termasuk dalam bingkai freedom of faith yang harus dilindungi? Bagaimanakah mengetahui bahwa suatu sekte tertentu adalah sesat? Apakah seyogyanya negara ikut campur dalam wilayah kepercayaan beragama? Serentetan pertanyaan di atas mengemuka seiring menjamurnya aliran-aliran menyeleweng yang mengatas namakan Islam di indonesia akhir-akhir ini.

Pemeluk agama Islam di negara kita lebih banyak dari jumlah seluruh muslim yang tinggal di negara-negara Arab. Isi kepala berjuta-juta umat ini tentu tidak bisa dirangkai-paksa menjadi sebentuk kesepakatan tunggal. Perbedaan pendapat serta perbedaan cara pandang terhadap Islam tentulah hal yang wajar belaka. Individu-individu dengan pandangan yang sama akan cenderung saling mendekati dan membentuk suatu kelompok. Sampai di sini, tak ada yang keluar dari batas kewajaran. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Sampai suatu ketika, kepala-kepala merasa bahwa merekalah yang persepsinya mengenai Islam paling benar. Tekstualis, kaku dan anti interpretasi. Sedikit saja kelompk lain berbeda pandangan dengan mereka, tiba-tiba yang lain ini dicap sebagai kafir atau minimal tidak Islami. Standar Islami yang mereka pakai sesempit lingkaran virtual yang mereka bangun di dalam kepala mereka. Mereka berdiri di dalam lingkaran tersebut, dan siapa saja yang berada di luar lingkaran, berarti tidak berada dalam wilayah Islami. Pada titik ini, barulah muncul permasalahan.

Persoalan lain mencuat ketika suatu kelompok, atas nama kebebasan beragama, kebebasan berpendapat dan kebebasan-kebebasan lain berteriak lantang menyuarakan faham baru yang liberal. Secara alami, faham ini berada pada kutub yang berlawanan dengan faham di atas. Yang saya kesan dari ajaran kelompok kedua ini adalah hasrat yang menggebu-gebu untuk memreteli atribut-atribut kesucian dari ajaran Islam. "Membumikan" Alqur'an dan "memanusiakan" Nabi. Kita semua tahu, bahwa Alqur'an memang diturunkan sedikit demi sedikit dengan beberapa di antaranya didahului oleh asbab al nuzuul yang menunjukkan "kebumiannya". Sifat kontekstualnya. Kita juga semua faham betul bahwa Nabi adalah juga manusia. Tapi apa yang saya rasakan dari hasrat kelompok ini, ada kecenderungan kengidulen. Libido yang terlalu tinggi dan terlalu bersemangat dalam mendegradasi segala sesuatu yang besifat "langit". Pameo seperti, Tidak ada hukum tuhan, dekonstruksi Alqur'an dan sebagainya kerap kita dengar dari kelompok ini.

Sifat ekstrim seperti ini barangkali merupakan sebuah reaksi logis dari gencarnya propaganda kelompok-kelompok tekstualis yang suka merasa punya hak monopoli atas kebenaran. Yang patut disayangkan, para pemuja liberalisme ini biasanya senang memposisikan diri "di luar Islam" atau gemar berkolaborasi dengan non muslim; Barat. Menjadikan Barat sebagai idola dan panutan. Dan dengan membabi buta menerapkan metodologi-metodologi barat dalam "membaca" ajaran dan turats Islam. Bahkan sampai ada -- meskipun tidak banyak-- yang melacurkan agamanya demi menyenangkan sang idola dan tujuan-tujuan lainnya. Slogan "berbedalah maka kau akan terkenal", diterapkan. Membuat sensasi dan memunculkan kontroversi demi popularitas. Sebenarnya kita patut menghargai setiap pemikiran, apapun bentuk pemikiran itu asalkan jujur.

Tak jarang dua kelompok ini saling bersitegang dan berpolemik di media. Bahkan sampai keluar ancaman pembunuhan dari salah satu kelompok. Sementara jama'ah / jam'iyah dengan aqidah dan ajaran "mapan" yang menjadi wadah berpuluh juta umat seakan mandul dan tak mampu memberikan pencerahan. Mereka hanya terjebak dengan rutinitas organisasi yang absurd. Tak bermanfaat bagi umat dan tak progresif. Ada yang berkutat dengan tradisi yang tak masuk akal. Ada yang rebutan posisi. Ada yang hanya berfikir tentang kegagahan fisik organisasi. Lupa dengan tujuan dibentuknya organsisasi yaitu, membimbing dan memberikan pencerahan kepada umat. Jika aliran mainstream kehilangan orientasi, maka tak heran kalau kelompok-kelompok ekstrim baik kanan maupun kiri yang akan berjaya. Saya teringat perkataan seorang yahudi moderat dalam mengomentari gerakan ekstrim Zionisme; " Jika orang-orang jujur kehilangan orientasi, percayalah para ekstrimis yang akan muncul dan mengambil alih kepemimpinan".


Dalam situasi keberagamaan kita seperti ini, maka bangkitnya kelompok-kelompok ekstrim dengan berbagai corak dan kegiatannya bukanlah hal yang aneh. Bahkan kondisi seperti ini akhirnya dimanfaatkan oleh kelompok lain (para pencoleng munafik) yang menipu orang awam demi kepentingan pribadi. Sebut saja sekte-sekte semacam ahmadiyah, Islam Jama'ah ( LDII ), atau yang baru-baru ini membuat gempar umat Islam di Padang; Jami'ah Islamiyah dan lain-lainnya. Menurut hemat saya, khsusus dalam hal penipuan dan penyesatan semacam ini negara wajib turut campur menangani. Karena hanya negara yang memiliki perangkat sah dan dibutuhkan dalam menanganinya. Tapi kemudian ada pertanyaan yang mengemuka. Bagaimana caranya mengetahui bahwa kelompok-kelompok tersebut adalah sesat dan bahwa para pemimpinnya adalah penipu? Sebenarnya sama sekali bukan hal sulit mengidentifikasi kesesatan semacam ini. Aliran seperti ini sangat nyata kesesatannya. Bukan hanya sekedar ikhtilaf biasa antara modernis, tekstualis, tradisionalis ataupun liberalis.

Kesesatan gerombolan yang saya maksud ini mudah sekali kita ketahui. Kelompok ini biasanya cenderung ekslusif. Berkelompok cara hidupnya. Ada juga yang tidak membentuk komunitas tertentu tapi, hanya menjalankan ritual peribadatan dengan anggota gerombolannya saja. Menganggap yang lain sebagai kafir yang sesungguhnya, Najis dan tidak boleh memasuki masjid mereka. Menutupi ajaran aslinya dari orang lain. Menggunakan jurus Taqiyah seperti yang digunakan aliran-aliran sesat syi'ah pada era Kerajaan Islam awal. Mengajarkan ketaatan mutlak kepada pemimpin kelompok yang biasanya disebut sebagai amir. Bahkan ada yang mempercayai bahwa pemimpinnya adalah penjelmaan dari Nabi Muhammad atau bahkan tempat bersemayam ruh tuhan. Ujung-ujungnya, anggota diwajibkan membayar sejumlah uang yang telah ditentukan oleh pengurus gerombolan dengan dalih zakat dan sebagainya. Anggota dilarang keras mengetahui bagaimana uang tersebut ditasharrufkan. Mempertanyakan hal tersebut dianggap sebagai kufur. Amir gerombolan menentukan tafsir dan pemahaman atas nas dan harus diikuti oleh seluruh anggota. Menoleh kepada pemahaman orang lain atas nas dilarang keras. Dalam memahami nas, mereka harus taklid kepada pemimpinnya. Hidung mereka dicocok. Pasrah bongko'an.

Dalam kasus LDII, sang mastermind menggunakan taktik yang sebenarnya bukanlah hasil karyanya sendiri. Taktik yang dijiplak dari aliran-aliran sesat pada era kerajaan Islam di Arab. Pertama mereka mendekati golongan muslim awam -- diprioritaskan golongan ekonomi baik -- yang mudah ditipu. Karena para "santri" tentu sulit dijerat dan orang miskin tidak bisa diperas. Sang agen mengajak calon korban untuk berbicara tentang islam. Kemudian mulai memaparkan sebuah nas yang -- kata mereka -- tak terbantahkan. Bahwa nabi pernah bersabda: " Laa Islaama illa bi al jam'aah, walaa jama'ata illa bi al imaamah, wala imaamata illa bi al bai'ah, walaa ba'iata illa bi al tho'ah". Atau hadis yang semacamnya. Diktakan pula bahwa orang yang berada di luar jama'ah sampai mati, maka dia mati dalam keadaan jahiliyah alias Kafir.

Nah!!! Si calon mangsa mulai terusik hatinya. Berarti dengan syahadat dan menjalankan rukun Islam saja tidak cukup. Berarti dia harus masuk dalam sebuah jama'ah, karena tidak ada Islam kecuali dengan jama'ah, tidak ada jama'ah kecuali dengan imamah, tidak ada imamah kecuali dengan bai'at dan tidak ada bai'at kecuali dengan ketaatan terhadap sang Imam. Kemudian sang agen mengatakan: "Jangan takut, kamu bisa menjadi muslim yang sebenarnya kalau kamu mau berbai'at kepada pemimpin kami". Mereka mengklaim bahwa di Indonesia sampai pada tahun tertentu munculnya pemimpin gerombolan ini, belum ada seorang muslim yang diangkat menjadi seorang Amir al mukminin. Sehingga sang amir tersebutlah yang harus menjadi tujuan bai'at dan sekarang kepemimpinan telah dilimpahkan kepada anaknya sebagai khalifah selanjutnya.

Hayhaata!!! Wa yaa Turaa!!! Para munafik ini menggunakan nas yang telah ditafsirkan sesuai dengan tujuannya sendiri menjerat orang-orang awam. Menipu dan memeras. Mereka bukan muballigh, mereka bukan pemimpin ummat. Mereka adalah Dajjal terkutuk. Apa alasan taqiyah dan menyembunyikan ajaran, kalau bukan karena takut ketahuan sesatnya? Khilafah dalam Islam juga tidak diwariskan. Hanya orang munafik atau kafir yang mengatakan bahwa orang muslim di luar golongannya dan menjalankan syari'at Islam serta lurus dalam akidah, sebagai kafir yang najis.

Melihat fenomena semacam ini, akankah pemerintah diam? Bukankah membiarkan masalah ini ditangani oleh "massa" justru hanya akan menimbulkan fitnah. Seharusnya pemerintah tegas dan berani mengambil tindakan. LDII yang berkali-kali berganti nama dan dulu pernah di-nass oleh Kejaksaan Agung sebagai aliran sesat, kenapa masih dibiarkan hidup dan berkembang sampai sekarang? Pada era dinasti Orde Baru, LDII sengaja tidak ditumpas karena dimanfaatkan suaranya dalam Pemilu. kalau benar ada niat dari pemerintah untuk "menertibkan" gerombolan-gerombolan sesat semacam ini, sebenarnya tidak terlalu sulit untuk menumpas atau minimal memperlambat perkembangannya. Pemerintah bisa mulai mendata dan melakukan penyelidikan yang mendalam tentang aliran-aliran ini. Kemudian bagi aliran yang terbukti melakukan penipuan dan penyesatan diambil tindakan tegas dengan menyita seluruh aset organisasi dan para pemimpinnya. Menangkap dan memenjarakan para pemimpin aliran sesat. Kemudian diberikan penyuluhan dengan dengan cara yang sebaik-baiknya kepada para korban penipuan ini. Dalam hal penyesatan dan penipuan atas nama agama ini, compromise is not acceptable!!!
Wallaahu a'lamu

13 Comments:

Anonymous Anonymous said...

tulisan yg cerdas!!

3:39 AM  
Anonymous Anonymous said...

pantaskah orang yang mengaku islam menghina saudaranya sendiri

9:23 AM  
Anonymous Anonymous said...

nah kan udah tau dalilnya kalo belon baiat matinya jahiliyah,
dasar orang goblok

7:40 AM  
Blogger Alex Ramses said...

Oh,,, no animal here please,, saya nulis pakai nalar, pakai bahasa manusia, pakai logika. kalau tidak setuju dan mempunyai pemikiran yagn lebih logis, silakan ditulis dengan bahasa manusia atau kasih link biar saya baca. saya tidak pernah memaksa orang lain untuk sependapat dengan saya.

Maaf, binatang dilarang datang ke sini dan menggonggong atau mengembik gak jelas.

3:59 AM  
Anonymous Anonymous said...

waah saya suka photo anda yang lagi megang payudara wanita itu,..

2:45 PM  
Blogger CAI said...

hehehehe saya suka jawaban anda "no animal here please" anda terjebak dalam kalimat anda sendiri, emang kalo ALLAH SWT sudah menunjuk "ORANG INDONESIA" menjadi kafir gak ada yang bisa mencegahnya, biarin aja, sekalian lo gak usah nunjukin negara tempat lo sekolah "KAIRO, EGYPT dll" mmm... jadi bangga gitu, malu-maluin "ORANG TUA" aja
kalo ke jakarta maen ketempat gw, gw tunggu "ILMU" lo hehehehehe

1:17 PM  
Anonymous mbah gendeng said...

aku pengikut sufi........
cuma kasih saran aj sebelum kamu memasukinya jangan pernah bilang salah or bener


find me in
mbah_setan@yahoo.com
every saturday 23.00 wib

10:50 PM  
Blogger Djunaidi Abdillah said...

Ayo pada sabar,kriteria sesat sudah dikeluarkan oleh MUI. Tinggal masing-masing dr kita instrospeksi diri. yg tidak setuju dgn MUI silahkan saja, tanggung sendiri akibatnya, jika nantinya masyarakat di sekitarnya berbuat anarkis.

jika benar tidak usah takut, jika salah sadari kesalahannya dengan jantan. amiin semoga Allah melimpahkan rahmat atas kita semua

10:31 AM  
Anonymous Anonymous said...

itu orang LDII pada kebakaran jenggot, saya udah baca macam2 situs mengenai LDII, orang2 LDII mudah sekali terbaca pola bicaranya, 1. menggunakan kata2 kasar penuh emosi, tidk menyandarkan nalar dan dalil yang sahih dan reasonable dalam berhujjah, 2. berpura2 jadi kelompok lain, tapi memuji-muji LDII 3. berpura2 sebagai korban dengan berdalih, LDII tidak mengganggu orang kok LDII malah dibilang sesat, 4. pura2 mengatasnakaman persatuan umat, supaya tidak dimusuhi, 5. yang agak lumayan ilmunya (mungkin muballighnya) mulai mencoba menyandarkan argumentasi, tapi begitu mentok, akan mengambil langkah antara 1 sampai 4 di atas. Abah madigol bener2 berhasil mengebiri logika orang LDII ini. (catatan: CAI = cinta alam indonesia, semacam kepanduan di lingkungan LDII)

5:15 PM  
Blogger echaimutenan said...

ya sudah ga usah dipanjang2in..

yang melihat benar atau gaknya masuk surga atau gaknya kita kan Allah yang nentuin...nanti diakhirat

apapun adanya kita yang berbhineka...wajib hormat menghormati....ya toh...

ya wes....

sekarang kita cuma bisa berdoa semoga kita termasuk hambanya yang soleh dan masuk surga lancar barokah.....amieeeeeeeeeeeeen

hehehehe..piss yo...

5:59 AM  
Anonymous Anonymous said...

dalil-dalil yang ditulis itu ada yang ngeriwayatin gak? buku/kitabnya bisa dicari ke gramedia gak???bisa dibaca orang banyak gak?? klo itu karangan gerombolan, ada yang dipublish gak?....penasaran nih, tulisannya kurang footnote.

9:26 AM  
Anonymous LDII Sesat said...

Terlalu bnyak berdebat... :)
Jgn Terhasut Oleh Orang yang sakit hati

8:52 PM  
Anonymous Anonymous said...

Trimakasih atas tulisannya...
Semoga orang2 yg tertutup hati, mata dan telinganya di beri Hidayah oleh Allah untuk mengikuti dienul Islam ini secara benar.
Sedihnya jika ada keluarga yg terperangkap oleh aliran sesat ini dan mereka tidak sadar.
Amien

3:49 AM  

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home

Site Meter